Selasa, 27 November 2012

SALDO HATI



Memory of Nov, 21st 2012

“Pulsa……” seruku dengan nada agak tinggi, sudah hampir 3 kali aku memanggil-manggil pemilik counter langgananku. Counter yang sekaligus rumah tinggal itu masih terlihat sunyi, hanya pintu yang menghubungkan counter dengan rumah didalamnya yang terlihat terbuka. Membuatku yakin bahwa pemilik counter ada dalam rumahnya. Belum juga terdengar sahutan, apalagi seseorang atau setidaknya sepotong makhluk hidup muncul. “Citra…” teriakku lumayan nyaring, juga untuk panggilan kesekian kalinya. Aku sudah terlanjur menulis nomor HP ku di buku list isi pulsa seperti biasanya, sehingga mau tidak mau aku harus menunggu sang pemilik counter. Beberapa menit berlalu, aku duduk di kursi pelanggan  menghadap ke pintu kecil gerbang kampus yang kurasa lebih mirip gang tikus. Sering aku dengar anak-anak kampus menyebutnya dengan “Jembatan Cinta Banaran”, entahlah aku tidak tahu sejarahnya. Ku perhatikan saja mahasiswa yang hilir mudik keluar masuk pintu gerbang sambil memainkan pulpen ditanganku dengan nada tidak sabar, “eh, mbak” suara serak membuatku mengangkat kepala dan bersiap melontarkan senyum sambutan. “Mama Citra,,,” aku reflex membalikkan badanku dan hendak menyapanya seperti biasa, namun kata-kataku tertahan. Mata dibalik kacamata itu tertutup mendung pekat mengandung air mata. Wajah manisnya yang biasa menyapaku riang membias lembayung penuh kesedihan. Rambutnya yang biasa lurus dan terurai rapi kini terlihat kusut dan sepertinya tidak terkena sisir selama seminggu. Aku menjadi tidak enak sendiri, senyum pun kutarik perlahan. “eh, mau isi pulsa bu” kataku dengan salah tingkah. Kulihat dengan susah payah ditahannya butir-butir bening yang ingin menerjang kelopak matanya, pun dengan usaha keras dicobanya membentuk satu senyum bersahabat denganku seakan ingin mengatakan bahwa tangisnya bukan karena teriakanku di siang bolong ini.
Maka dengan gerakan perlahan diambilnya buku list customer didepanku, aku hanya diam tanpa kata, hanya mencoba seakan-akan tidak tahu bahwa didepanku ada orang yang sedang menangis, kulihat bibirnya bergetar menahan isak yang tertahan. “kira-kira sehebat apa penderitaan atau mungkin sakit yang dialami oleh Mama Citra” batinku bertanya-tanya sambil duduk diam dan pura-pura sibuk dengan HP ku, juga sekalian menunggu pulsa yang ku isi masuk dalam saldoku. Karena biasanya selama ini aku sering berbincang ringan dan bahkan bercanda dengan Mama Citra kalau sedang isi pulsa, karena hampir tiap hari aku melewati counternya. Counternya terletak di pinggir jalan yang aku lewati menuju kampus, dan kadang-kadang 2 kali seminggu aku dan temanku tetap menyempatkan diri untuk isi pulsa atau hanya sekedar ngobrol riang dengan Mama Citra, mendengarkan dia bercerita tentang keluarganya, juga menyukai caranya membanggakan adik laki-lakinya yang sedang menempuh pendidikan S2  di Bandung, yang menurut dia masih single. Biasanya juga dia tidak pernah bosan menanyakan tentang daerah asalku, yang dia rasa sangat asing. Dia bahkan tidak habis pikir bagaimana bisa aku yang dari NTB sana, yang menurut hemat mereka sungguh begitu jauh merantau di Semarang, perempuan pula, begitulah katanya setiap dia bertanya tentang Lombok. Jadilah kami biasanya bertukar cerita atau sekedar menanyakan makanan khas daerah asalku, oleh-oleh khas Lombok ataupun tempat-tempat wisata yang mengagumkan di NTB.
“Mbak kuliah jam berapa hari ini” katanya tiba-tiba mengagetkanku. Kuangkat kepalaku, kulihat wajahnya sudah lumayan jernih, kayaknya dia sudah mampu menguasai diri dan air matanya pun sudah tidak merembes lagi dipipinya. Kulirik Hello kitty di pergelangan tanganku, jarumnya menunjukkan pukul 12.30, “Sebentar jam satu bu” sahutku kaku (aku sering panggil ibu, kadang-kadang juga Mama Citra, karena kutaksir umurnya sudah sekitar 35 tahunan)”. “mbak nggak terburu-buru kan?” tanyanya lagi dengan logat Jawanya yang kental. “nggak kok buk, masih sekitar 30 menit lagi” jawabku dengan sedikit ragu juga agak heran. Ibu dua anak ini kulihat menghela nafas panjang, mencoba menenangkan dirinya dengan kembali melempar senyum ramah padaku. “mbak pasti heran ya melihatku nangis kayak gini” tanyanya tiba-tiba dengan nada yang lebih mirip keluhan. “eh,,,nggak juga bu” jawabku grogi, dan sejujurnya ingin segera beranjak meminta diri, tepatnya melarikan diri dari situasi yang kurasa tidak nyaman itu. Belum sempat ucapan pamit keluar dari bibirku, tiba-tiba Mama Citra mengeluarkan pertanyaan lagi yang membuatku tertegun. “kira-kira mbak mau sedikit berbagi nasihat nggak sama aku” katanya perlahan. Tentu saja aku tidak tau harus jawab apa, beberapa saat ku diam “wah, gimana ya bu” jawabku ragu-ragu “tapi kalau ibu berkenan, saya siap kok mendengarkan cerita ibu” kataku sedikit berdiplomasi sambil garuk-garuk jilbabku yang tidak gatal, karena terus terang aku paling susah menasehati orang yang lebih tua dariku, wong nasehati diri sendiri saja belum kelar-kelar.      
“Beberapa hari yang lalu temanku memberitahuku kalau suamiku menjalin hubungan khusus dengan seorang gadis, dia pernah melihat suamiku berduaan dengan salah satu mahasiswi semester 3 dikampus ini jurusan seni tari. Sebelumnya aku memang sudah mendengar kalau Papanya Citra punya hubungan khusus dengan seseorang. Tapi aku tidak percaya, meskipun selama ini dia (suaminya) sering berlaku kasar dan bahkan terkadang memukulku, aku tidak pernah terlalu mempermasalahkan. Karena anak-anak sudah besar, aku berfikir kalo aku nggak boleh egois untuk memikirkan diri sendiri dan mengabaikan nasib anak-anakku. Maka dengan besar hati aku mencoba meyakinkan diri, bisa saja ini hanya fitnah atau mungkin saja gadis itu hanya pelanggan suamiku (suaminya mengelola warnet yang juga tidak jauh dari counter mereka). Aku berharap semoga suatu hari dia bisa berubah” tuturnya dengan pandangan nelangsa, matanya kosong memandang jauh kedepan. Aku ternganga, lidahku kelu tak mampu mengucap sepatah katapun. Aku hanya sempat berfikir dan memastikan apakah aku layak mendengar cerita ini. Meskipun dengan pikiran yang bercampur aduk, kembali kuikuti bait-bait katanya yang mengharu biru.  
“Selama ini aku hanya pura-pura tidak tahu dan bahkan sengaja menutup telinga dari isu miring tentang suamiku, juga berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa antara aku dengan suamiku walaupun sikapnya memang terlihat aneh, sedikit-sedikit marah bahkan anaknya pun kerapkali dibentak. Pernah aku bertanya baik-baik tentang isu itu, yang terjadi justru dia menganggapku cemburuan, suka gossip dan tidak memiliki sedikitpun kepercayaan sama suami. Dia bahkan bilang kalau aku posesif, aku hanya tidak ingin pertengkaran kami yang hampir setiap hari terjadi akhir-akhir ini didengar oleh anak-anakku. Makanya aku selalu berusaha ngalah dan akhirnya mencoba berlapang dada atas semua yang kualami. Mungkin Gusti Allah sedang mencoba aku kali ya mbak?“ lanjutnya dengan suara halus dan penuh ketabahan. Untung siang-siang seperti ini jarang pelanggan yang datang beli pulsa, sehingga Mama Citra leluasa bercerita dan akupun tidak terlalu kikuk mendengarkan cerita yang kuanggap sangat privasi tersebut. Sayangnya, aku masih juga belum punya satupun perbendaharaan kata untuk diucapkan. Otakku masih terlalu lelet untuk bisa mengakses masalah-masalah seperti ini dan memproses setidaknya satu kalimat pelipur atau katakanlah sedikit basa-basi agar aku terlihat sedikit punya solidaritas. Jujur aku terenyuh, hanya saja aku tidak terbiasa mendengar keluhan seperti ini, selama ini paling-paling aku dimintai nasehat tentang pacar selingkuh dan aku tanpa tedeng aling-aling biasa mengatakan “putus sajalah”.
Lamunanku buyar ketika Mama Citra kembali melanjutkan curahan hatinya, “Yang membuatku menangis seperti ini karena sudah beberapa hari belakangan Papanya Citra tambah uring-uringan nggak jelas, dia semakin jarang pulang kerumah, dan kalaupun pulang dia tidak pernah makan dirumah bahkan sama sekali tidak pernah menegurku, aku benar-benar dianggapnya tidak ada. Aku hanya prihatin dengan badannya yang semakin kurus dan tidak terurus. Akhirnya dengan keputusan bulat, ketika pagi tadi dia pulang ke rumah dan anak-anakku sudah ke sekolah, aku bilang ke dia, “lamar saja gadis itu kalaupun kau sudah siap”. Tapi dia justru menangis di hadapanku dan mengakui sejujurnya kalau selama ini dia memang menjalin hubungan dengan mahasiswi tersebut, dan yang membuatnya selama ini kurang tidur, tidak mau makan bahkan sampai kurus adalah disebabkan karena mahasiswi tersebut sudah memutuskan Papanya Citra dan tidak mau menemuinya lagi ataupun mengangkat telpon dan bahkan membalas smsnya. Dia terlihat sangat hancur mbak, dia sangat kehilangan gadis itu, itu yang membuatku kasihan dan berfikir bagaimana caranya untuk bisa membuat suamiku setidaknya mau kembali tersenyum untuk anak-anakku, bukan buatku mbak. Dan setidaknya kami bisa menjadi sebuah keluarga yang utuh lagi” katanya dengan getir.  
Kali ini aku benar-benar dibuatnya shock, tanpa sadar kata-kataku meloncat keluar “Ya Allah bu, jadi ibu nangis hanya karena kasihan sama suami ibu?” tanyaku kesel dan gemas sekaligus tidak habis pikir. Bagaimana bisa ada orang seperti ini. Aku memandang lurus-lurus ke mata di balik kacamata tebal itu. Yang kutangkap memang hanya kesungguhan. Hampir saja terlontar ucapan “ibu sudah tidak waras kali ya, harusnya ibu minta cerai saja?”hmm,,,tentu saja tidak boleh” otakku mewarning cepat. Aku menarik nafas panjang. Bingung mau bilang apa, aku mencoba mengecek saldo pulsaku, pulsaku sudah masuk dari tadi ternyata. Akhirnya aku hanya bilang "selain menyediakan saldo pulsa, ibu juga ternyata punya cukup saldo hati” kataku asal. “maksud mbak opo to yo?” Katanya agak bingung. “Yah, kok ibu udah jelas-jelas di khianati kok masih saja ada istilah kasihan untuk suami ibu, tanpa meminta ma’af pun ibu udah memberi ma’af. Ibu luar biasa” (kalo saja aku berani sebenarnya ingin kukatakan “masih saja kasihan sama makhluk semacam suami ibu itu”). “maksudku stok hati ibu banyak, beberapa kali disakiti, ibu bahkan masih memiliki ruang untuk memikirkan nasib suami ibu” lanjutku menerangkan dengan agak emosi. “Begitulah mbak, mau bilang apa lagi. Semoga dia belajar banyak dari apa yang dia lakukan, kok mbak bisa saja ya nyari istilah, pake saldo hati segala” katanya geli tapi penuh harap.“Hmm, ibu sangat luar biasa” pujiku tulus juga kagum.
“Semoga hati suami ibu tergerak untuk menyadari kesalahannya dan bisa melihat bagaimana ketulusan ibu dalam menyayanginya” lanjutku berusaha bijaksana. “itulah mbak, aku akan berusaha menunjukkan sikap terbaikku dihadapan dia, hingga suatu saat Allah membukakan matanya untuk sebuah kebaikan dan sadar untuk kembali seperti dulu lagi” katanya tegar.
 “Amin ya Rabbal alamin, ibu salah meminta nasehat padaku, ibu bahkan sudah tahu apa yang harus ibu lakukan. Aku yang mestinya belajar banyak dan kalau bisa sedikit meminta saldo kekuatan hati sama ibu” jawabku sedikit bercanda. “ah mbak bisa saja, terima kasih sudah mau mendengarkanku” ujarnya ringan. Aku kembali melirik Hello Kitty dipergelangan tanganku, sudah pukul satu kurang lima menit. “aku kayaknya harus berangkat ke kampus ibu, ini sudah mau masuk” aku berpamitan. “iya mbak, matur nuwun sangat ya, jangan kapok mampir” katanya mengiringi langkahku menjauh menuju “Jembatan Cinta Banaran”.
Dikampus, ceramah Prof. Warsono tentang ‘Second Language Acquisition’ mendayu seakan lagu klasik yang begitu saja lewat dialat dengarku. Bersuara, namun tanpa makna apa-apa, hanya semacam dendang asing berbahasa planet yang tak kumengerti artinya. Ini pertama kali lantunan pidato Professor tak menarik perhatianku, biasanya otakku akan sibuk mengikuti jalan pikiran sistematis beliau. Pikiranku melekat dalam bait-bait kekuatan hati, atau mungkin keajaiban hati yang dimiliki oleh Mama Citra. Bagaimana bisa hati yang bersemayam dalam jiwa rapuh dan lemah itu memiliki kekuatan yang begitu dahsyat, kekuatan hati yang mengalahkan sisi-sisi keegoisan dari seorang individu. Inikah sisi lain dari sebuah konsekuensi dan komitmen relasi yang telah diikrarkan? atau mungkin ruang special bagi kekuatan cinta yang teranugerah khusus hanya pada orang-orang yang beruntung, yang membuatku sedikit membandingkan saldo kekuatan hati dan keikhlasan memaafkan yang kumiliki. Menghadirkan pertanyaan sentilan pada diriku pribadi, mampukah sisi egoisitas itu terkikis oleh kekuatan cinta? Harus cinta yang seperti apa? Pasokan cinta yang seberapa banyak yang dimiliki oleh orang-orang seperti Mama Citra? Yang akhirnya membuatnya mampu mengeliminir aturan-aturan logika atau bahkan sisi manusiawi sekalipun. Entahlah, aku belum sampai pada tahap itu, bisikku menghela nafas panjang. Aku kembali dalam suasana kelasku, sesi tanya jawab ternyata sudah mulai berlangsung, aku paksa ekspresiku berpura-pura paham atas diskusi yang berlangsung. “Hm, entahlah” bisikku berulang.

Footnote: Nama tokoh disamarkan.
Irh@

Minggu, 23 September 2012

BAJU BARU

BAJU BARU
Kuhempaskan badanku di ruang TV dengan helaan nafas panjang, ransel bututku ku lempar begitu saja disebelahku. Belum sholat isya, jarum jam sudah menunjukkan pukul 10.00 malam. “Susah juga kalo begini terus selama seminggu ini” bisikku dalam hati. Pagi-pagi sekali harus ke kampus sementara malam harus bangun untuk makan sahur. Bulan puasa, hari ke-10, pesantren ramadhan sudah 3 hari berlangsung, kegiatan yang cukup melelahkan. Menjadi panitia di seksi konsumsi memang susah-susah gampang, mengurus semua subsidi teman-teman panitia lainnya, telat sedikit saja para panitia maupun peserta sudah pada komplain, makanan asin pun seksi konsumsi yang ditegur.
 Apalagi dengan adanya aturan tambahan; semua panitia diharuskan nginap setiap malamnya, supaya tetap bisa mengontrol kegiatan peserta dengan intensif. Namun pengecualian bagi aku, setiap malam aku harus pulang kerumah, tepatnya rumah kakakku. Kakak masih melanjutkan sekolah pascasarjananya diluar kota dan keluarga kecilnya ikut semua, jadi seluruh tanggungjawab rumah dan pengurusannya diserahkan padaku. Maka ketika pesantren ramadhan itu berlangsung, aku tetap memutuskan untuk nginap dirumah, aku tetap nekad pulang dan tidur sendiri di rumah tipe 36 tersebut, meskipun dengan wilayah yang masih sepi dan rawan, serta rumah-rumah tetangga yang masih sangat jarang.  Memang lumayan takut, tapi aku tidak punya pilihan tentunya.
Malam rabu, selesai sahur aku tidak langsung tidur, meski waktu sudah menunjukkan pukul 3.30, karena aku lumayan penyuka sepakbola, aku berencana  menunggu subuh sambil nonton sepakbola. Brazil VS Venezuela sedang berlaga di TV. Wajah keren Kaka dengan aksi-aksinya menghilangkan seluruh kantukku yang tersisa, dengan semangat ku ikuti pertandingan tim Brazil kesayanganku. Ku matikan lampu dan berbaring, volume TV kuturunkan sampai angka 1 karena kupikir, toh aku tidak mengerti apa yang dikatakan komentator bola yang berbahasa inggris tersebut. Aku semakin serius nonton, gol indah dari Roberto Carlos menjadikan skor Brazil sudah 1-0 untuk Venezuela. Dalam hati ku membatin “Carlos bakal tambah keren kalo dia nambah gol lagi”. Belum lama berselang, tendangan sudut untuk Brazil menambah unggul skor 2-0 lewat sundulan kepala si ganteng Kaka, dan tanpa sadar “yes….yes….yes….” aku heboh sendiri.
Belum sempat aku sadar dengan kehebohanku, tiba-tiba bunyi “bruk” yang lumayan keras seperti benda jatuh membuatku kaget setengah mati. Kupikir bunyi ini berasal dari pagar depan, maka dengan sedikit panik aku matikan TV, kemudian berjalan pelan menuju jendela depan dan menyingkap sedikit korden dengan hati-hati. Masya Allah, kulihat ada seseorang sedang mengendap-ngendap dihalaman depan, cahaya lampu dihalaman depan dengan jelas memperlihatkan bayangan orang dengan wajah dan badan yang tertutup sarung seluruhnya, kayaknya orang ini berhasil melompati pagar rumah yang kurang lebih 2 m tersebut, dengan sendirinya badanku gemetaran, lututku lemas. Aku sadar bahwa orang didepan ini pasti maling. Dia ternyata masuk lewat rumah sebelah yang sedang dibangun dan masih penuh aneka kayu dan material bangunan. Akhirnya dengan mudah melompat ke dalam halaman rumah, karena bisa jadi dirumah sebelah mungkin banyak kursi-kursi kayu atau meja yang tidak terpakai untuk dijadikan tanjakan.
Tubuhku gemetar ketakutan, meski dalam hati aku masih sempat berfikir “ne maling kayaknya ga punya ilmu meringankan tubuh deh, kok jatuh bisa keras begitu” berusaha menenangkan diri. Aku memutar otak, kira-kira apa yang bisa kulakukan, berteriak minta tolong kurasa percuma karena rumah-rumah tetangga lumayan jauh, dan lagian “si maling cuma sendirian saja, kayaknya Karate dasar yang kumiliki cukup untuk melumpuhkan si maling, saatnya mempraktekkan kemampuanku” batinku mencoba memberanikan diri. Otakku langsung menduga kalau maling ini pasti akan langsung berusaha masuk lewat jendela kamar depan yang belum sempat dipakaikan terali sejak dulu, kamar kerja kakakku, pasti agak susah membongkar pintu depan yang terbuat dari kayu jati tersebut. Dengan berjingkat-jingkat aku berjalan ke dapur dan mengambil pisau dapur yang biasa dipakai kakakku mengiris sayur, masih dengan hati berdebar-debar. 
Aku kembali berdiri disebelah jendela incaran maling tersebut tanpa bunyi sedikitpun. Aku sudah mulai mendengar grasak-grusuk bunyi jendela dibongkar, hatiku tambah ciut sebenarnya. Dengan sedikit gemetar, kupegang kuat-kuat pisau dapur ditangan. 5 menit berlalu, aku semakin deg-degan saja, sebentar-sebentar kuintip si maling “ne maling kayaknya ga professional, lama banget” gerutuku dalam hati, meski dalam hati berdo’a panjang pendek semoga saja dia tidak berhasil membongkar jendelanya. Menit ketujuh si maling berhasil membongkar jendela, aku beringsut ke sudut gelap samping jendela, dengan hati-hati malingnya mengangkat daun jendela. Aku sudah mulai bisa melihat bayangan si maling karena pantulan cahaya lampu halaman yang cukup terang. Si maling sudah mulai memanjat jendela yang setinggi dada orang dewasa, celana gombrong besar yang menutupi kakinya terlihat masuk pelan-pelan dan kupikir sama sekali tidak gesit layaknya maling professional (aku juga sebenarnya belum pernah lihat maling professional, hanya ekspektasiku terhadap maling yang seharusnya).
Begitu kakinya menginjak lantai kamar, kepalanya langsung menengok satu set computer diatas meja yang berhadapan denganku, otomatis dia membelakangiku dan belum sadar akan keberadaanku, maka dengan gerakan cepat aku langsung berdiri dibelakangnya dan menodongkan pisau dapur yang kupegang tepat dipinggangnya “diam” ancamku dengan suara dalam dan sengaja diberat-beratkan. Golok ditangannya langsung ku rampas dan kupegang dengan tangan kiri serta kuarahkan pada lehernya “lumayan heroic” pikirku sedikit senang. Tak terkira kagetnya si maling, meski belum sempat kulihat ekspresi wajahnya, namun kuyakin si maling lumayan takut, kurasa badannya sedikit bergetar.
Kutebak pasti si maling berfikir kalau aku laki-laki, karena memang aku memakai baju kaos lengan panjang dengan celana sport panjang dan rambutku kukuncir pendek. Dia juga belum sempat melihat wajahku, setelah aku yakin si maling tidak berani berkutik, aku langsung menyalakan lampu kamar tepat disamping kiriku dengan pisau dapur masih dipinggang si maling. “buka kainnya” perintahku dengan suara gemetar, si maling terlihat ragu-ragu juga setengah tidak yakin kalau suara itu suara perempuan. Dengan suara dikejam-kejamkan kubilang padanya “saya tidak main-main dengan pisau ini pak” kataku mengancam, “jadi ikuti saja perintah saya” lanjutku. Si maling ga punya pilihan, dengan pelan dibukanya kain yang menutupi wajahnya.
Dengan tetap waspada sambil menodongkan pisau dan golok, ku melangkah ke depan wajahnya dan betapa kagetnya diriku, “ya Allah, pak Sin” seruku tertahan. Wajah yang sangat familiar bagiku, ini bapak tetangga yang ngontrak BTN dua rumah dari rumah kakakku, bapak ini sering di minta tolong oleh kakakku juga ibu-ibu tetangga lain untuk membersihkan rumput-rumput liar didepan pagar mereka setiap hari minggu. Selama ini bapak tersebut dikenal jujur dan baik, ibu-ibu kompleks sangat senang meminta bantuannya. “pantasan ne orang lamban banget” aku membatin dengan shock.
Si Bapak inipun menunduk dengan wajah pias dan merah. Malu,mungkin juga takut. Setahuku dia memang tidak punya pekerjaan tetap, dengan 4 orang anak yang masih kecil-kecil. Sempat muncul ketidakpercayaanku, karena wajah polos dan teduh bapak ini sangat tidak mungkin melakukan hal-hal jahat seperti ini. Aku mulai menarik tanganku yang memegang pisau dapur dan golok dari badan si bapak, kemudian semua lampu kunyalakan. “ayo pak, ke ruang TV” ajakku, “Bapak ngapain malam-malam gini keluyuran?” tanyaku konyol, sekedar menghilangkan sungkan dan takut diwajah si Bapak yang semakin pucat itu. Si bapak semakin dalam menunduk, dan kayaknya perasaan bersalah semakin menghantuinya.
“Oke, kalau Bapak mau cerita apa adanya, saya akan ma’afin Bapak, saya akan biarin bapak pergi dengan aman dan saya tidak akan ngasih tau siapapun dan juga tidak melapor ke polisi” bujukku tegas. “tapi kalo tidak, saya akan menelpon polsek depan dan akan meminta mereka datang menangkap Bapak” tambahku pura-pura mengancam. “iya nak” jawab si Bapak lemas. Butir-butir bening mulai turun diwajahnya yang tirus. “tapi tolong jangan bilang siapa-siapa ya” matanya memandangku dengan memelas, “siip janji pak, bapak gak usah khawatir” kataku sedikit terenyuh. Ternyata bapak ini lagi bingung nyari uang lebaran buat keluarganya.
Dengan suara pelan yang mengandung nada sedih Si Bapak mulai bercerita, anak-anaknya sudah mulai saling bercerita satu sama lain, berangan-angan dan mengatakan pada ibu mereka kalau nanti lebaran tiba, anak laki-laki sulungnya yang berumur 10 tahun minta dibelikan baju koko yang biasa dipakai teman-temannya ketika jum’atan. Dia mau ikut sholat Id nanti dengan baju koko barunya, sedangkan si anak perempuannya yang kedua berumur 8 tahun, minta dibelikan sepasang sandal yang bergambar Barbie yang sejak dulu dia sering lihat ketika diajak ibunya kepasar tradisional kalau ada ibu-ibu tetangga yang minta tolong buat belanja sayur-mayur. Anak laki-lakinya yang ketiga berumur 6 tahun minta dibelikan baju kaos bergambar Power Rangers yang sejak dulu dia idolakan.
Selama ini anak-anaknya tidak pernah merasakan pakai baju baru layaknya anak-anak lain, tidak ketika tahun ajaran baru ataupun hari raya lebaran. Baju-baju yang mereka pakai selama ini adalah pemberian para tetangga yang bermurah hati atau prihatin atas kehidupan keluarga ini. Aku tidak terlalu tau asal usul keluarga Pak Sin , karena sejak 2 tahun lalu kami mulai tinggal ditempat ini, keluarga pak Sin ini sudah duluan menempati rumah kontrakan BTN tipe 21 yang belum direhab, hanya 1 kamar tidur ukuran 2X3 m, ruang tamu dgn ukuran yang sama dengan lantai semen yang sudah terkelupas sana-sini serta satu kamar mandi sempit. Untunglah karena wilayah ini masih belum diminati karena jauh dari kota, maka harga kontrakanpun masih sangat murah.
Aku terdiam beberapa saat, prihatin sekaligus bingung harus ngapain, “bapak sudah sahur?” tanyaku memecah keheningan. “belum nak, saya pulang sahur dirumah saja” jawabnya tertunduk dalam“jangan, bapak tunggu sebentar” kataku segera beranjak ke dapur. Kebetulan tadi pulang dari kampus aku beli ayam goreng dan sayuran dijalan untuk persiapan sahurku, kurasa masih lumayan untuk porsi satu orang. Maka kukeluarkan nasi beserta lauknya dihadapan si bapak “ayo pak sahur dulu, udah mau imsak lo” kataku ringan sekedar mencairkan kekakuan si bapak “sudah nak, tidak apa-apa, saya jadi tidak enak” jawabnya semakin tertunduk dengan wajah pias. “sudah, tidak apa-apa bapak, tidah usah ga enak begitu, bapak santai saja” jawabku kasihan.
Bapak mulai memandang nasi dengan lauknya, kulihat airmatanya mulai menetes lagi “saya benar-benar minta ma’af nak, saya terpaksa melakukan semua ini. Saya hanya tidak tega mendengar rengekan anak-anak saya, ma’af saya khilaf” katanya lagi penuh emosi. “iya pak, ga apa-apa, asal jangan diulangi lagi bapak ya. Lebaran kan tidak harus pake baju baru. Anak-anak bapak masih bisa dikasih pengertian yang baik tentang lebaran” sahutku polos, kurasa hanya itu kosa kata yang kupunya, aku berfikir keras apa lagi yang harusnya kukatakan. Hm, aku memang belum bisa memberi nasehat selain itu. “ayo bapak, sahur dulu, nanti keburu imsak” lanjutku.
Bapak itu memandangku ragu, “boleh saya bawa pulang makanannya nak? Istriku dirumah mungkin belum sahur” katanya pelan. “Masya Allah, so sweet” pikirku merasa trenyuh juga kagum. “tapi kan makanannya cuma sedikit pak, mungkin tidak cukup untuk berdua” gumanku. “tidak apa-apa nak, segini sudah cukup” katanya. “baiklah pak, tunggu sebentar” ujarku sambil membawa masuk makanan tersebut dan memindahkannya kedalam kantong plastik. Kutambahkan semua nasi yang ada di rice cooker dengan beberapa biji telur bekal yang ditinggalkan kakak buatku. Aku ingat kalau kemarin aku punya honor MC ketika ada acara seminar nasional Geografi sekitar Rp.100.000, aku masih belum memakainya. Maka segera aku masuk kamar dan tanpa pikir mengambil uang tersebut.“bapak, ma’af saya ga bisa bantu banyak, bapak jangan lakuin hal kayak tadi lagi ya?” kataku dengan senyum lega.
Si bapak tersenyum serba salah, malah kupikir senyumnya lebih mirip meringis daripada senyum. Dengan kikuk tangannya terulur mengambil kantong plastik yang kusodorkan. Hati-hati kembali kuberikan uang Rp.100.000 ke arah si bapak “ini sekedar uang untuk tambah-tambah belanja sahurnya ibu”, wajah si bapak kembali memerah, kesedihan dan penyesalan diwajah itu semakin terlihat. “saya ga tau harus bilang apa nak, saya sangat berterima kasih dan sekaligus minta ma’af atas semuanya”. “sudahlah pak, bukan apa-apa kok, cuma makanan doang. Tapi jangan lupa ya pak, besok pagi harus datang memperbaiki jendela saya. Ntar saya dimarahi sama kakak” kataku berusaha mengurangi rasa kikuknya, “nggih, nggih”. Katanya setengah bergegas namun dengan nada sungguh-sungguh.
Ku antar si bapak ke depan gerbang “cepatan bapak, imsaknya tinggal beberapa menit lagi” seruku mengingatkan bapak yang berjalan gontai menuju rumah kontrakannya. Setelah si bapak lumayan jauh, dengan sedikit berlari aku masuk kembali kedalam rumah dan mengunci pintu gerbang serta mencoba mengunci jendela yang tadi dicongkel dengan kawat. “ampun,,,,bagaimana nasib Brazil dan Venezuala tadi” kataku agak panik. Segera aku ke ruang  TV, selebrasi kemenangan Brazil 3-0 atas Venezuala sedang berlangsung. Aku sedikit kecewa, tapi setidaknya team kesayanganku menang, meskipun aku telah melewatkan moment-moment penting saat Brazil menyerang gawang Venezuela. “ups, aku juga kayaknya ga bakal pake baju baru lebaran ini” ujarku pada diri sendiri. “tapi tak apalah, semoga uang yang harusnya buat baju baru tersebut lebih bermanfaat buat si bapak ketimbang kalau aku pakai” do’aku tulus. Azan subuh berkumandan memanggil seluruh umat Islam untuk mengagungkan Sang Pencipta.
Pagi, hari ke-11 puasa, lengking HP Nokia 3315 kesayanganku membangunkan. Hmm, nama “ketua panitia” muncul dilayar hitam-putihku. Pukul 08.00 “God” seruku kaget, tentu saja aku harus segera ke kampus. Aku tidak bisa bayangkan wajah ganteng ketua panitia ‘Pesantren Ramadhan’ bakal berubah jadi singa ketika memelototiku gara-gara keterlambatan ini. Omelan dari teman-teman panitia tentu sudah menungguku, wajah-wajah masam seksi acara yang dari tadi tengah malam mengurus peserta tentu sudah tak bisa kubayangkan. “ah, aku kan hanya seksi konsumsi, tugasku ntar sore kok” bisikku terkantuk-kantuk sambil menekan tombol off di HP ku. Aku kembali pulas.
 End
Irh@

Kamis, 28 Juni 2012

My Beloved One

Mengingatmu adalah memutar kembali setiap memory  yang bisa ku ingat selama aku pernah ada dalam kehadiranmu, kesadaranku dan kebersamanku bersamamu,,, memori yang kutau hanya sebagian kecil dari sisa hidup penuh duka dan suka yang Allah hadiahkan untukku, untuk bisa memelukmu dalam seluruh kesempurnaan hadirmu, untuk semua yang menyayangimu, dan juga untukmu sendiri. Hadiah kehidupan yang begitu indah kau maknai dalam cerita-cerita sahajamu yang penuh inspirasi, insipirasi bagi aku, bagi mereka yang menghargai setiap keutamaan sikap, kejujuran, kesederhanaan, dan satu istilah yang baru aku fahami kini "zuhudmu" akan dunia yang memang tak pernah kau rasa. Inspirasi bagi pribadiku dalam memilih arah hidupku dikemudian hari, meski dalam kesahajaan pribadimu, dalam sedikit bahasa dan tutur yang kau katakan, dalam semua kekurangan2 bernilai "materi" duniawi kita, aku dan diriku serta semua orang2 yang menyayangimu. Dalam diam kutemui ribuan mutiara teruntai ketika beberapa patah katamu kau ucapkan, kesederhanaanmu membuatku mampu terpesona akan wibawa dan karisma yang begitu agung yang memancar dari jiwa rapuh nan ringkihmu. Hingga satu kata darimu mampu membuatku tak akan pernah berani mengangkat wajah menatapmu. Satu teguranmu adalah ribuan nasehat yang terpateri yang mengawal pilihan2 hidupku kemudian.
Kejujuran yang berlandaskan ketakutanmu akan kecintaan pada Sang Pencipta dimana kini kau telah bersemayam, menjadikanku bahkan tak pernah berani bicara kejujuran diri sendiri. Pernah suatu ketika ketika tubuh mungilku masih terus bergayut manja dipangkuanmu, kau menemukan uang 100rp dijalan. Aku memintax dengan merengek, kau usap kepalaku penuh sayang dan kau bilang "ini bukan uang kita nak". Ku dibawanya ke mesjid dan ditunjuknya, "ini yang lebih berhak". Aku hanya manyun tak mengerti, hal kecil yang kupelajari sejak kecil. Membuatku tak berani berspekulasi tentang "kejujuranku" pribadi. Inspirasi pendidikan karakter yang kukenal kini dengan istilah "soft skill" adalah cara sederhanamu mendidik aku dan generasi-generasimu yang lain. Seingatku aku bahkan tak pernah mendengarmu tertawa terbahak-bahak layakx diriku dan orang2 lain kini, senyum simpulmu cukup membuat kami mengerti bahwa kau bersenang hati, marahmu hanya terlihat dari diammu. Apalagi lontaran kata-kata kasar dan cacian, kau haramkan terucap dari lidahmu yang semoga diampuni oleh Allah apabila kau pernah melakukan kekeliruan itu.
Aku bahkan begitu jelas mengingat ketika ada teman-temanku yang berbicara kasar dan tidak sopan dan terdengar olehmu, maka aku dan kakak2ku akan segera ditegur dan diajak naik ke rumah,demikian pula ketika ada tetangga yang berkelahi, maka kami semua wajib mengunci pintu dan tidak boleh dengar apalagi menonton. Waktu itu, otak kecilku sering protes, kenapa aku tidak dibiarkan seperti anak2 lain. Dimana ada keributan, maka semua berlari mendekati, tapi tidak untukku dan kakak2ku.Sering kuberanikan diri meminta kepadamu, kenapa tidak boleh melihat orang berkelahi. Katamu dengan sederhana "tidak ada orang yang berkelahi dengan kata2 yang baik, semua saling mencaci dan mencemooh, Allah tidak memberikan telinga untuk mendengar hal2 seperti itu, demikian pula yang lainnya" sambungmu. Aku malu pada Allah, padamu dan pada diriku sendiri yang sampai sekarang tak pernah bisa sepertimu. Kau tidak pernah mengenal istilah teori pendidikan secara konseptual; behaviorism, naturalism, humanism dll yang kupelajari kini adalah bahasa asing nan aneh ditelingamu. Tapi caramu menyayangiku, mendidikku, menasihatiku adalah kumpulan seluruh teori2 asing itu, setidaknya bagi diriku.Dan itu telah menjadi benang perekat dirimu dalam seluruh kenanganku tentangmu.
Waktu yang akhirnya merubuhkan semua kekuatan raga fanamu, membiarkanmu berbaring dalam raga yang terpasung penyakit, membawaku dalam pertanyaan "keadilan" pada Dia yang mencipta aku dan dirimu, dalam pikiran picikku ku menanyakan "adakah dosa besar yang tak terampuni yang kau lakukan selama hidupmu, hingga begitu tega Sang Maha Kuasa memupus harapan pada sosok kebanggaanku?, tapi dengan tabahmu kau meminta pada-Nya, "aku hanya memohon, semoga Kau memberiku kekuatan untuk bisa sholat berjama'ah dimesjid setiap waktu". Tetes airmata kesalku sering bergulir ketika kulihat jasad ragawi semakin hari semakin lemah. Bahkan kata2 bijakmu sudah terasa sulit kau kasih untukku. Namun harapanmu dan kekuatan hidup dimatamu tetap menatapku tegar, tatap mata penuh do'a itu menuntunku dalam pijak2 mungilku menuju hidup dan pilihan yang kuyakini "benar" setidaknya menurutku, semoga kaupun mengatakan hal yang sama.
Di suatu malam, ketika aku mengadakan sebuah acara bersama teman2ku, dan aku kebagian ceramah waktu itu, aku pulang sekitar pukul 2 malam. Ibuku yang membukakan pintu, kupikir kau sudah tidur, aku melangkah hati2 melewati pembaringanmu. "Khumairah (kau sering memanggilku dengan nama lengkapku), ede caru ceramahmu anae (ceramahmu bagus nak)" katamu mengagetkanku. "oh, belum tidur "sahutku cepat dan bersemangat, "kan sudah malam". "aku sengaja belum tidur, aku menunggu giliranmu berceramah dan mendengarkan" katamu lembut (dan aku memang tidak pernah bisa selembut dirimu). Kebanggaan sering kurasa dalam pujian2mu akan semua yang kulakukan meskipun tak berarti dimata orang lain. Kau sengaja membelikanku hadiah dan diserahkan kepanitia MTQ untuk dihadiahkan kepadaku hanya karena aku bisa hafal surat Al-Falaq waktu aku umur 7 tahun. Dan sering aku berjanji pada diriku bahwa aku akan selalu membuatmu bangga. Namun, itu hanya omong kosong ternyata, sejak SMA aku bahkan tak pernah bisa melakukan hal yang berguna buatmu.Hingga kini, ketika aku ingin kau melihatku menjadi seseorang yang lebih baik dari dulu (lagi-lagi hanya menurutku), semua sudah terlambat, bahkan kau tidak sempat menyaksikan wisuda sarjanaku, ataupun melihat fotoku ketika memakai toga yang disematkan oleh Rektor karena aku wisudawati terbaik.
Meskipun kini aku bisa melakukan 1 hal yang kau minta dan kau nasehatkan padaku setiap kau melihatku berkeliaran dengan baju kaos dan celana pendek. Aku cukup bersyukur sebelum kau menghadap Dzat yang kau cintai, kau telah sempat melihat Khumairahmu berjilbab (walaupun mungkin tidak sempurna dimata Allah). Kini, yang tersisa hanya rekaman memori yang tersimpan abadi dalam kenanganku, semoga do'a yang kukirim selalu untukmu disana diterima dan dikabulkan oleh Dzat Pemilik Jiwamu. Semoga orang2 saleh yang kau cintai selama hidupmu adalah teman2 yang menemanimu di alam sana.
Kenangan bersamamu adalah motivasi bagiku dalam melangkah dan memilih jalan yang baik buatku. Semoga kenanganku akan kebanggaanku padamu tetap hadir menemaniku dan menua bersamaku hingga inspirasi2 yang pernah terpancar dari sosokmu akan terus hidup dalam generasi-generasiku selanjutnya. Meski setiap lebaran tiba, bayangmu masih kuharap ada dan berdiri di mimbar mesjid dan melantunkan khotbah Hari Raya seperti biasanya. Tapi cukuplah semua yang kau berikan padaku, do'aku pada Sang Pengabul Do'a. "Ya Allah, sampaikan pada ayahku, aku meminta ma'af atas sikap dan perilaku ku terhadapnya selama beliau hidup, aku tidak sempat melihat hembusan nafas terakhirnya dan mencium wajah sahajanya untuk terakhir kalinya. Dan apabila selama hidupnya ada kesalahan yang beliau perbuat, maka ampunilah beliau. Tempatkanlah beliau bersama orang2 yang Kau sayangi, bukan dengan orang2 yang Kau murkai. Sampaikan padanya ya Allah, semoga beliau juga mendo'akan Khumairahnya agar bisa menjadi insan harapan-Mu sekarang dan kelak selamanya. Amin, allahumma amin.

Memories of my beloved father
Humaira




Senin, 28 Mei 2012

KISAH KEAJAIBAN CINTA ira


KISAH KEAJAIBAN CINTA

Para Pemain:
Jalaluddin Ar-Rumi                            :
Syamsuddin Tabriz                             :
Kimya (anak angkat Rumi)                 :
Kerra (isteri Rumi)                              :
Beberapa orang murid Rumi               :
Hatije (sahabat kimya)                        :
Sultan Walad (putera Rumi)               :

PROLOG = cerita tentang jalan sufi Jalaluddin Ar-Rumi (seorang sufi yang lahir di Balk yang sekarang dikenal dengan Afghanistan pada tahun 604 H/ 1207 M)  dalam mengarungi lautan magfirah menuju kesejatian cinta, kenangan akan persahabatannya yang “tidak biasa” dengan sang guru “Syamsudin Tabriz” yang menjadi inspirasi syair-syairnya tentang kerinduan akan penyatuan dengan ilah. Dan dilematis rumah tangga yang terbangun dalam “keajaiban” cinta sang “matahari” kepada isteri yang diamanatkan oleh sang sahabat. Dinamika yang terbangun dalam pesona cinta yang tentatif antara hamba dengan hamba serta cinta yang eternal antara sang pecinta (makhluk) dengan yang dicinta (Al-Khalik). Dalam tarian “sema” yang eksotik, yang dipercaya mampu mengantar sang cinta “darwis” kepada yang dicinta, menaburkan extase cinta pada Sang Pemilik Kesejatian Cinta.
Makhluk-makhluk bergerak karena cinta. Yaitu cinta oleh keabadian tanpa permulaan. Sebagaimana angin menari-nari digerakkan kuasa semesta. Karena itu iapun bisa menggerakkan pepohonan.
Cerita berawal dari kedatangan seorang yang bernama “Syamsudin Tabriz” di Konya (tempat kediaman Jalaluddin Ar-Rumi). Yang mengantarkan Maulana dalam meditasi yang panjang, yang membuat Maulana larut dalam keasyikan bertemu dengan “Sang Kekasih”, yang mengakibatkan semua murid Maulana, anak2x dan masyarakat Konya melihatnya tidak biasa. Dan bahkan banyak murid-murid Maulana yang protes karena ketidakhadiran sang guru yang begitu lama dan hanya oleh karena seorang “Syams”.

Jalaluddin dan Sahabatnya mengasingkan diri dalam meditasi yang berminggu-minggu, tanpa makan, minum dan segala bentuk interaksi sosial.
Kerra : (selalu menyediakan makan, minum, pakaian untuk ganti di depan kamar tempat suaminya berkhalwat dengan Syam), "sudah dua minggu Maulana mengasingkan diri, tak makan dan minum, siapa sesungguhnya lelaki itu, yang telah begitu jauh mempengaruhi suamiku (bicara sendiri)”.
            Selang beberapa menit kemudian. Keluarlah Rumi dengan Syams dari dalam kamar, dengan garis mata yang dalam menandakan kurang tidur, wajah yang kurus, lingkaran hitam di matanya begitu kontras dengan wajah yang pucat, Rumi menemui isterinya. Di belakangnya berjalan Syams seangkuh matahari.
Rumi : (sejurus memandang pada Kerra, kemudian menunduk dan akhirnya tersenyum pada isterinya).
Kerra : (memperhatikan suaminya lantas menunduk) “kau bahagia rupanya”.
Rumi : (menggeser dan mengenalkan sahabatnya) “ini Syamsuddin, sahabat karib jiwaku”. (terdiam sesaat dan berkata dengan perlahan) “kau harus memperlakukannya sebagai hal paling berharga dari diriku”.
            Kerra terdiam dalam sunyi, dan mereka berdua meninggalkan Kerra dalam diam. Selang beberapa lama tiba-tiba masuk Kimya dengan berlari-lari.
Kimya : (Terengah-engah) “Maulana dan sahabatnya telah selesai berkhalwat. Mereka ada disini, aku melihat mereka memasuki ruang belajar”.
Kerra : (menghela nafas, mengangguk) “aku tahu. Setidaknya mereka telah menampakkan diri dan aku bahagia. Tetapi Kimya……..(ragu-ragu), aku juga takut” (dengan tubuh yang menggigil).
Kimya : (khawatir dan meletakkan selendangnya pada leher Kerra) “itukah Syam?”
Kerra : (mencoba tenang, mengangguk) “aku tak tau apa yang terjadi pada diriku. Jangan dengarkan aku Kimya, aku hanya cemas. Sepertinya mereka tidak memperhatikan kesehatan mereka”. (mendesah) “ mereka yang pergi terlalu jauh, akan kehilangan pijakannya di bumi ini”.
            Sang Maulana dan Sahabatx bagaikan tak terpisahkan lagi, selalu berdua. Sudah beberapa waktu sang Maulana tidak mengajar lagi, hingga para muridnya pun menemui putra pertama Maulana (sultan Walad).
Murid2 :”Katakan pada ayahmu, tanpa cahaya pengajarannya, hidup ini rasanya tak tertahankan membebani kami. Katakan kepadanya, tanpa kebijakannya, kami bagaikan orang buta yang tersandung di kegelapan.”
Sultan Walad : “aku juga jarang melihat ayahku belakangan ini, dan kalaupun aku menemuinya, hanya sebentar untuk menengok keadaannya dengan Syams.
Murid2 :”Maulana sudah berubah, beliau sekarang hanya memperhatikan Syam dari Tabriz itu, seolah-olah dia adalah segalanya, beliau sudah tidak pernah ceramah, apalagi ke madrasah. Bahkan mengajar ngaji seperti dulu sama sekali tidak pernah beliau hiraukan lagi. Syam yang angkuh itu benar-benar menjauhkan kami dari Maulana.
Sultan Walad :”bagaimana kukatakan pada kalian dan bagaimana kujelaskan makna yang tercipta dalam setiap sunyi yang hadir di kedamaian jalan menuju Maghfirah-Nya.”
Murid2 :”apakah Maghfirah yang kau katakan itu, lihatlah Maulana sekarang, beliau seolah-olah tidak berada di dunia, dengan tubuh kurus yang tak terurus, terkadang tertawa sendiri seperti orang gila, kemudian menangis meraung-raung tanpa sebab, bahkan yang lebih parah Maulana nenari-nari dijalan yang ramai seperti orang yang tidak sadar akan dirinya, hingga di soraki orang gila oleh anak-anak dijalan, ini semua karena Syams pengacau itu, dia telah menjauhkan Maulana dari Allah, dia tukang bid’ah, dia telah menghilangkan wibawa dan karisma Maulana kita.
            Sultan Walad hanya terdiam tak mampu menjelaskan apapun pada murid-murid sang ayah, demikian pula dengan Kerra (sang instri Maulana) dan Kimya (puteri angkat Maulana), mengalami pergolakan batin yang hebat dengan sikap Maulana.
Kimya :”(termenung, duduk dengan tatapan yang menerawang)
            Datanglah sahabatnya Hatije. Mendekat dan duduk di sisi Kimya.
Hatije :” Kimya, kau sedih?” (memandang dengan simpati)
Kimya :”aku tidak sedih, tidak seperti itu”
Hatije :“lantas kenapa, sekarang kau jarang bercerita dan selalu termenung”.
Kimya :”aku mencoba menangkap sesuatu, seperti mencoba menarik sehelai benang supaya melewati lubang jarum yang sangat kecil, kau harus penuh perhatian, bergeming dan berkonsentrasi penuh. Sa’at kita hendak menarik benang agar melewati jarum, pikiran kita tak boleh teralihkan, kau tak ingin pikiranmu teralihkan.
Hatije : (mencoba bersungguh-sungguh dan memahami)”mungkin aku mengerti”(berkata sambil tersenyum lebar).
Kimya : “ tapi kau tahu, aku tak ingin pikiranku teralihkan, hal itu begitu kuat. Itulah yang telah lama kunanti.
Hatije :”apa yang terlalu kuat itu, apa yang kau nanti, dan apa yang ingin kau tangkap?, apakah menyangkut sahabat Maulana, Syams itukah yang mengalihkan pikiranmu?”
Kimya : (menghela napas)”sesuatu yang ada dalam diriku, aku tak tau bagaimana cara menjelaskannya padamu. Rasanya seperti sesuatu memanggilku sekaligus menjawabku pada waktu yang bersamaan. (terdiam beberapa saat), tadi malam aku bermimpi, ketika aku duduk di depan kamarku, seseorang yang aku yakin itu adalah Syams, mendatangiku, ketika aku melihat matanya yang kelam menusuk, hatiku bergemuruh seperti badai, menghancurkan semua ketenangan yang kumiliki, namun sebelum sempat ku ucap apa-apa, mata hitam itu menghilang, dan kuhanya dengar satu ucapan, ‘Syam berada disini untukmu, hari ini dia telah menyingkap tabirnya, perjalanan menuju asal telah dimulai”.
Hatije : (terdiam sambil memandang Kimya terpengarah).oh…..oh…
Kimya :”tapi sudahlah, aku tak mengerti dan kaupun tak akan mengerti.” (kembali diam dan termenung).
Beberapa saat
Hatije :”aku sangat berharap untuk mengerti, tapi aku pulang dulu. Lain kali kita bercerita.”
Kimya :”terima kasih Hatije, aku menyayangimu”
            Sesaat lamanya Kimya termenung sendiri, tanpa menyadari bahwa seseorang telah hadir disisinya.
Syams :”(berjalan kearah Kimya dengan perlahan) “bolehkah aku duduk disampingmu?” (bertanya dengan suara yang begitu lembut).
Kimya :” (mendongak kaget, kemudian perlahan mengangguk).
Syams : “(duduk agak menjauh dari Kimya, menunduk dan hening)
Kimya :” (mencoba memecahkan kesunyian dan bertanya) “apakah kota Tabriz sama dengan Konya?”
Syams : (mengangkat kepala)“Tabriz adalah kota dengan masjid-masjid yang membiru dan lelangit yang cerah. Sedangkan Konya adalah kota cahaya. (sejenak diam). Mawar-mawar kota Tabriz kecil dan berwarna kuning pucat dan hatinya berdarah. Belum ada mawar seperti itu di Konya. Tetapi suatu hari nanti, mawar seperti itu akan tumbuh dan berkembang……………. Ada banyak perempatan jalan tempat jiwa-jiwa suci bangkit di malam hari. Mereka berkumpul dalam sebuah kelompok seperti merpati-merpati merah dan hijau, kemudian mereka terbang ke Mekkah dan bertawaf memutari ka’bah.
Kimya :(menatap Syams bingung dan gemetar serta dengan tanda Tanya).
Syams :”(tersenyum tipis dan balik memandang pada Kimya) “ada banyak orang di Tabriz, jika dibandingkan, aku bukanlah apa2. (kemudian bangkit) “ingatlan mawar-mawar Tabriz, mereka dekat dengan Allah, hanya hati yang berdarah yang bisa menemukan-Nya…..“tapi terkadang, manusia melupakannya. Ketika mereka terpanggil dan hati mereka dibuat berdarah, mereka malah mengeluh, bukannya bersyukur. (menatap Kimya dengan tajam) “tetapi kau Kimya, kau tidak akan lupa.” (sebelum Kimya menjawab apapun, Syams telah melangkah pergi begitu saja meninggalkannya dalam kebingungan).
            Setelah setahun kemudian, tiba2 Syamsudin At- Tabriz menghilang secara misterius semisterius kehadirannya di Konya, Rumi mencari kemana-mana, dengan segala cara dicarinya informasi keberadaan Syam, hingga karena keputusasaanya, meluncurlah syair-syair kerinduannya akan sang sahabat, yang tertuang dalam Diwan-I-Syams-I Tabriz.
                        Biarkan aku bercerita tentang keajaiban-keajaiban Dikau, oh Cinta!
                        Ijinkan aku membuka pintu Ghoib bagi makhluk, dengan ucapan.

                        Wajahmu bak mentari, wahai Syamsuddin
                        Yang dengannya hati berkelana bagai cawan!

                        Engkaulah mentari, kami hanyalah embun
                        Kau bimbing kami ke tempat tertinggi.
                        Karena aku hamba sang mentari
                        Maka aku hanya kan berbicara dengan mentari.
                       
                        Namun, tiba-tiba muncul kecemburuan dari Tuhan
                        Dan mulut-mulut menjadi kasak-kusuk

                        Aku adalah Zahid yang pandai, orang yang berjuang.
                        Kawanku, katakan kenapa kau terbang seperti burung.

                        Aku menulis seratus surat, aku meniti seribu jalan.
                        Tampaknya kau tak baca selembar suratpun
                        Tampaknya kau tak ketahui satu jalanpun

                        Bila orang itu mengatakan “aku telah melihat Syams!”
                        Maka tanyakanlah, kemanakah jalan menuju Surga?

            Sekian lamanya, Maulana diselimuti kerinduan dan kesendirian, meskipun seluruh masyarakat Konya bersorak atas kepergian Syams, namun Sultan Walad sang anak sulung merasa tidak tega melihat kesedihan yang nampak pada Maulana,  maka dengan segenap usaha dicarinya Syams diseluruh tempat hingga ia menemuknnya di Syuriah dan membawanya kembali ke Konya disisi sang Maulana. Sekembalinya Syams di Konya, ia akhirnya dinikahkan oleh Sang Maulana dengan Kimya (anak angkat Maulana).

Kimya ; (termenung)

Hatije : (datang mendekat) “tidakkah kau takut pada Syams? Sudahkah kau pertimbangkan keinginanmu menikah dengannya? Dia bukan orang yang mudah, kita bahkan tidak tau dia darimana, dan dia tidak pernah terlihat melakukan apapun selain, ah…. Kimya, tolong pikirkan lagi.

Kimya : “aku hanya mengikuti apa yang sudah tertulis”

Hatije : (menatapnya) “jadi, sebenarnya itu bukan keputusanmu?”

Kimya : (menggeleng) “tidak, sama sekali tidak. Ini keputusanku sendiri, walaupun aku tau kita bisa saja menolak apa yang ditawarkan pada kita. Tetapi satu hal yang pasti bahwa kita tidak tau apakah itu sudah tertulis untuk kita atau tidak.

Hatije : “apakah kau bahagia?”

Kimya : (kaget)“aku tak tau, apakah kebahagiaan adalah satu-satunya alat pengukur kehidupan seseorang. Dan kebahagiaan itu takkan pernah terukur.

Hatije : (menatap cemas bercampur kekhawatiran)

Kimya : (bangkit) “Hatije, kau jangan cemas. Kau bertanya apakah aku takut. Tapi dilanda perasaan takut atau sedih bukan berarti menandakan seseorang sudah membuat kesalahan. Perasaan itu hinggap karena seseorang tidak benar-benar menyimak dan mendengarkan nuraninya.”

Hatije :”oh Kimya, kau membuatku sedih” (mulai menangis). “aku tidak mengerti satupun kata-kata yang kau ucapkan. Kadang aku berfikir bahwa kau tidak tau apapun tentang hidup. Tapi kadang aku malah berfikir kalau sebaliknya akulah yang tidak faham tentang hidup dan tak mengerti apapun”

Kimya :”sudahlah, kita berdua memang belum tau apa2. Masih banyak yang perlu kita pelajari. Aku menyayangimu. Terima kasih Hatije.

Hatije : ”aku berharap kau bahagia.” (berpelukan).

            Akhirnya Syams dan Kimya menikah. Dimalam pertama pernikahan antara Syams dan Kimya. Dalam kegelapan malam yang hanya diterangi cahaya lilin. Keduanya berdiri dalam diam.

Syams : (memandang Kimya) “kau tentunya lelah. Masuklah ke kamarmu, tidurlah dalam damai, dan ingat bahwa Dia disini bersamamu, selamanya.”
(menyerahkan lilin pada Kimya kemudian melangkah pergi menuju kamarnya meninggalkan Kimya dalam sendiri).

Paginya, Kimya menyiapkan segelah teh untuk sang suami.

Kimya : (melangkah sambil membawa teh, berjalan pelan2, kemudian menuangkan teh perlahan dengan agak gemetar).
Syams : (tersenyum memandang Kimya) ”Kimya, mengapa kau cemas? Mengapa kau takut? Aku tau begitu berat menjejakkan kaki diatas tanah ini sementara hatimu menatap ke surga. Tetapi, ini rahasia (diam sejenak), rahasianya adalah bumi ini dan surga tidaklah terpisah”. (mengambil gelas teh dan meminumnya). “sama sekali tidak terpisah” (dia mengulangnya).

Kimya: (berdiri tanpa tau apa yang dikatakan, memandang ke suaminya dengan bingung).

Syams : (bangkit berdiri) “aku harus pergi sekarang” (melangkah meninggalkan isterinya begitu saja).
 
Kimya : (hanya memandang kepergian sang suami).

Kimya : (merenung dan berbicara pada diri sendiri) “hidup seperti apa yang kualami ini, Syams adalah manusia seangkuh matahari, aku bahkan tidak mengerti apa pun tentang dia, untuk apa dia ada disini, dan kenapa dia memilihku? ”.

            Malam pun larut, (suara langkah Syams terdengar memasuki rumah, dengan cepat Kimya pergi menyambut). Namun……

Syams : ”jangan mengganggu. Pergilah tidur, ini sudah larut malam”.

Kehidupan keduanya berjalan “tak biasa” bagi orang-orang biasa, Syams pergi pagi dan pulang malam, sangat jarang terjadi percakapan bahkan interaksi antara keduanya, pagi2 Kimya hanya menyediakan teh, dan sampai malam menunggu “sang matahari” pulang ke haribaan malam. Beberapa minggu berlalu, Kimya tinggal dengan semua tanda Tanya dan kegundahan dalam hatinya. Dia tak pernah keluar rumah, tak pernah lagi bersenda gurau dengan kawan2nya. Hingga suatu hari datanglah Hatije sahabatnya.

Hatije : “Kimya, kau tau orang-orang diluar sana membicarakanmu, kau tidak pernah keluar rumah. Semua orang mengatakan kamu adalah perempuan yang malang, Syams tidak mengizinkanmu keluar rumah karena dia cemburuan”.

Kimya : (terdiam)

Hatije : “katakan sesuatu Kimya, kau tidak bahagia kan? Dan semua orang bilang Syams tidak pernah ke mesjid, juga dia pernah minum anggur. Apakah itu benar?”

Kimya : (mengangkat wajah dengan marah) “semua itu tidak benar, orang-orang tidak tau bagaimana sosok Syams seutuhnya, dan kamu harus ingat, meskipun kamu temanku, Syams adalah suamiku”.

Hatije : “maafkan aku Kimya (dengan wajah penuh penyesalan), aku hanya khawatir denganmu. Berbahagialah. (melangkah keluar meninggalkan Kimya sendiri). 

Kimya : (termenung)” kehidupan seperti apa yang kini kujalani, bersamanya aku seperti menghadapi ketidakpastian, aku sadar akan hal itu, tapi kenapa aku begitu terpengaruh dengan semua keangkuhannya, otoritasnya, bahkan ketidakperduliannya padaku.





Masuklah Kerra

Kerra : “Kimya, kau terlihat pucat, kau tidak memperhatikan kesehatanmu”

Kimya : (diam tertunduk)

Kerra : (memandang Kimya prihatin) “ada sa’atnya, manakala do’a yang paling kering sekalipun justru yang paling didengar Allah. Lantas Dia dengan sifat Rahman-Nya membuat hatimu meronta, betapa kau kehilangan-Nya,  merindukan-Nya”. (meraih tangan Kimya, memegangnya seakan memberi kekuatan)

Kimya : (tertunduk menangis). “aku tak bisa berdo’a, hatiku terluka sedemikian dalam, aku…aku tak tau bagaimana menghentikan kepedihan ini”.

Kerra : “kau memang tak bisa menghentikannya, ketika hatimu terluka, hanya ada tiga aturan main; jangan mengenyahkan kepedihan itu, jangan pernah mencoba untuk mengerti dan jangan tenggelam dalam kepedihan itu. Buatlah dirimu berserah diri seperti sebatang pohon muda yang terperangkap dalam badai, biarkan badai itu menghantammu. Jangan pernah menentangnya dan jangan pula membantah keberadaannya. Bagaimana mungkin kita menafikkan angin dan hujan? Dan jangan pernah menyesalinya”.

Kerra keluar, pada malam harinya, dengan nyala lilin Kimya bersujud panjang kemudian berdo’a.

Kimya : “Ya Allah, janganlah abaikan hamba-Mu ini. Dan sungguh apa yang kulakukan selain berserah diri kepada-Mu? Aku tau jalan yang ditempuh Syams melampaui pemahamanku, dan kepedihanku terlalu menyakitkan untuk dipikirkan, maka jadikanlah aku sebatang pohon yang terperangkap badai, hingga badai itu kan berlalu”.

Tiba2 datanglah setitik lilin dan langkah Syams masuk ke kamarnya.

Syams : (berlutut dihadapan Kimya, memegang bahunya) “Kimya, Kimya, tataplah aku”.

Kimya : (balik menatap Syams dan kemudian bersujud di lutut Syams sambil menangis)

Syams : “kau tidak usah takut sayang, tak ada yang perlu kau takutkan, cinta tiada berakhir, cinta adalah lautan tak bertepi, kau harus belajar menanggung penderitaannya”.

Kimya : (bangun, dan memandang Syams penuh Tanya) “aku tak mengerti?”

Syams : “jangan, jangan pernah mencoba untuk mengerti, ini adalah sebuah anugerah. Tubuh telah mengenal sang jiwa dan jiwa telah mengenal sang tubuh, dan selama-lamanya akan ada dalam keabadian. Kini, engkau lenyap dalam Wujud. (Syams memandangnya dan Kimya tengadah sambil menangis) cara Tuhan mengajari kita mengenal-Nya memang tak terbatas, Hanya Dia. Cinta yang kau rasakan hanya Untuk-Nya, aku hanyalah pelayan-Nya, jangan pernah lupakan itu Kimya.

Kimya : (memandang dengan panic) “apakah cintaku padamu salah?, apakah kecintaanku padamu merupakan semacam penghinaan pada Tuhan?”

Syams : “kau harus hati2 sayang, kau harus hati2 dan tidak keliru dengan membaurkan cintamu padaku dan cintamu pada Allah, cinta tak lain adalah aliran napas Tuhan yang selalu menyertai napasmu”.

Kimya : “bagaimana bisa kau begitu kejam, aku menyerahkan seluruh jiwaku pada cinta yang hanya untukmu secara kemanusiaanku” (menangis).

Syams : (menghapus air mata Kimya dengan lembut) “berhentilah meratap, hikmah dari Allah datang sebebas burung dan begitu juga jiwamu. Do’amu akan terkabul, tidurlah, waktumu tinggal sebentar lagi, sangat singkat.”

Syams : (bangkit meninggalkan Kimya dalam sendiri). 

Sejak sa’at itu, Kimya larut dalam kebersamaannya dengan Sang Pemilik Cinta sejati, Kimya larut dalam rasa cinta yang ganjil yang dihadirkan Syams padanya, tak ada lagi hasrat akan nilai-nilai keduniawian, yang ada hanyalah keindahan abadi dalam jiwa yang menyatu dengan napas sang Pencipta. Hingga beberapa sa’at kemudian, tubuh jasmani Kimya semakin lemah dalam kekuatan jiwa rohaninya. Hingga puncaknya, suatu hari ketika dia keluar bersama sahabatnya Hatije, Kimya jatuh karena lemahnya.

Hatije : (kaget melihat Kimya jatuh, kemudian memangkunya) “kamu kenapa Kimya, kau sakit, kamu harus jujur padaku, selama ini kamu tidak bahagia kan?” (memandang Kimya cemas)

Kimya : “bahagia? Aku tidak bahagia, tapi aku…aku merasa hidup. Hidup yang lebih hidup daripada yang pernah kurasakan sebelumnya, apa yang dulu kunikmati, kini tak lagi menarik minatku. Aku tau, kadang-kadang terasa menyakitkan, tapi bagiku rasa itu begitu agung, setiap embusan napas adalah sebuah kehidupan seutuhnya, sebuah keabadian.

Hatije : “matamu begitu bercahaya (memandang Kimya cemas) tapi mengapa aku tak pernah memahamimu?”

Kimya : “tak apa Hatije, kita memang berbeda. Itu saja, semua berjalan sesuai kehendak Tuhan. (terdiam sesaat dan menghela napas) bagaimana aku meyakinkanmu bahwa Syams sesungguhnya orang yang baik’.

Hatije :”tahukah kau bahwa sekarang orang-orang semakin marah pada Syams daripada dulu, mereka mengatakan bahwa Syams telah menenung Maulana dan menjerumuskanmu pada penderitaan. Dan aku yakin, Syams berada dalam bahaya sekarang.”
Kimya : “Syams adalah tuan dari takdirnya sendiri, dia sebebas angin berhembus” (tubuhnya semakin lemah).


Hatije : (panic, memanggi-manggil Kimya) Kimya…..Kimya”

Semua orang masuk (Syams, Kerra, Maulana Jalaluddin Ar-Rumi, dan Sultan Walad)

Kerra : “Kimya, ada apa denganmu?.

Kimya : (dengan suara lemah) “tidakkah kau lihat, aku akan pergi kemanapun yang kuinginkan” (memandangi suaminya “Syams” menyentuhnya lembut penuh cinta kemudian memejamkan mata untuk selamanya).

Serempak mengucapkan “innalillahi wainna ilaihi raji”un”.


Narasi

            Cinta,
            Kaulah setiap nada dan kaulah sang music
            Kaulah sang lilin dan kau sang api
            Kaulah kegembiraan dan kau jualah pancaran cahaya
            Kaulah cinta dan kau bukan APA-APA.
           
            Cinta itu samudera yang gelombangnya tak terlihat
            Air samudera itu api, sedangkan ombaknya adalah mutiara.

            Karena cintalah, semua rasa pahit akan jadi manis
            Karena cintalah yang merubah tembaga menjadi emas
            Lewat cintalah semua endapan berubah jadi anggur murni
            Lewat cintalah, kesedihan akan jadi obat
            Karena cintalah, si mati menjadi hidup
            Karena cinta, raja bisa menjadi budak.
           

Setelah kematian Kimya, Syams pun kembali menghilang dari Konya dan ini untuk selamanya. Sang Maulana Jalaluddin Ar-Rumi kembali mencari sang sahabat namun tak pernah menemukannya.
 
            Lihatlah, aku telah banyak mencoba,
            Dan mencari dimana-mana
            Tetapi tak pernah ku temukan sahabat seperti dirimu.
            Aku telah mencoba setiap pancuran, setiap butir anggur
            Namun, tak kurasa keindahannya kala bertemu denganmu”


 Disadur dari novel : KIMYa Sang Puteri Rumi